News Pattallassang – Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Solidaritas Mahasiswa Toraja menggelar aksi demonstrasi di depan Gedung DPRD Tana Toraja, Jumat (3/10/2025). Mereka menyuarakan penolakan terhadap rencana penggusuran Tongkonan berusia lebih dari 300 tahun yang dianggap sebagai warisan budaya leluhur masyarakat Toraja.

Dalam orasinya, mahasiswa menegaskan bahwa tongkonan bukan sekadar rumah adat, tetapi simbol identitas, sejarah, dan ikatan sosial masyarakat Toraja. Rencana penggusuran tersebut dinilai sebagai bentuk pengabaian terhadap kearifan lokal.
Baca Juga : Komunitas Fisabilillah Tampil Memukau di Maulid Nabi Muhammad SAW Bersama Arjuna Srikandi Family
Latar Belakang Rencana Penggusuran
Penggusuran tongkonan ini dikabarkan terkait dengan proyek pembangunan infrastruktur di wilayah Toraja. Meski proyek disebut untuk kepentingan umum, namun mahasiswa menilai pemerintah daerah kurang melibatkan masyarakat adat dalam proses perencanaan.
Menurut mereka, langkah ini berpotensi menggerus warisan budaya yang seharusnya dilestarikan, apalagi tongkonan yang hendak digusur sudah berdiri selama tiga abad dan masih difungsikan sebagai pusat kegiatan adat.
Tuntutan Mahasiswa
Dalam aksinya, Solidaritas Mahasiswa menyampaikan beberapa tuntutan, di antaranya:
-
Menolak penggusuran tongkonan yang memiliki nilai sejarah dan budaya tinggi.
-
Mendesak DPRD Tana Toraja untuk turun tangan menghentikan proyek yang berpotensi merusak warisan adat.
-
Mendorong pemerintah daerah menghormati dan melibatkan masyarakat adat dalam setiap pengambilan keputusan.
-
Mengusulkan jalur alternatif pembangunan tanpa merusak situs budaya.
“Kami akan berdiri di garda terdepan untuk melindungi tongkonan. Jika pemerintah tetap memaksa, kami siap menghadang,” tegas salah satu orator mahasiswa.
Dukungan Masyarakat Adat
Aksi mahasiswa ini mendapat dukungan dari sejumlah tokoh adat Toraja. Mereka menilai bahwa tongkonan adalah warisan tak ternilai yang mengandung nilai filosofi hidup, sistem kekerabatan, dan spiritualitas.
Tokoh adat berharap pemerintah tidak hanya memikirkan aspek pembangunan fisik, tetapi juga mempertimbangkan keberlanjutan budaya yang menjadi identitas Toraja.
Respon DPRD
Perwakilan DPRD Tana Toraja yang menerima audiensi mahasiswa berjanji akan menyampaikan aspirasi ini kepada pihak eksekutif. DPRD juga membuka ruang dialog antara mahasiswa, masyarakat adat, dan pemerintah untuk mencari solusi terbaik tanpa harus mengorbankan warisan budaya.
“Kami mengapresiasi semangat mahasiswa dalam menjaga budaya Toraja. DPRD akan berupaya mencari jalan tengah agar pembangunan bisa berjalan tanpa menghilangkan identitas,” ujar salah satu anggota DPRD.
Kesimpulan
Aksi demonstrasi mahasiswa di Tana Toraja menjadi bentuk nyata kepedulian generasi muda terhadap warisan budaya leluhur. Polemik penggusuran tongkonan berusia 300 tahun ini diharapkan bisa diselesaikan dengan dialog yang menghormati kepentingan masyarakat adat sekaligus memperhatikan kebutuhan pembangunan.
Dengan menjaga tongkonan, Toraja tidak hanya melestarikan bangunan fisik, tetapi juga merawat identitas budaya yang menjadi daya tarik dunia.








